Jakarta – Berasal dari keluarga petani di sebuah desa terpencil di Kabupaten Bone tidak membuat Muhamad Akbar Pamonroi membatasi cita-citanya. Sebaliknya, latar belakang itu menjadi sumber semangat untuk terus belajar, bekerja keras, dan membuktikan bahwa mimpi dapat tumbuh dari mana saja, termasuk dari hamparan sawah.
Melalui catatan inspiratif bertajuk "Catatan Si Anak Petani", Akbar menyampaikan pesan bahwa asal-usul bukanlah penghalang untuk meraih masa depan yang lebih baik.
"Aku anak petani, tapi mimpiku tak berhenti di sawah. Aku bermimpi setinggi langit, bekerja sekeras tanah, dan berserah sekuat doa.
"Akbar mengatakan, kehidupan di desa mengajarkannya arti perjuangan sejak dini. Ia tumbuh dengan menyaksikan kedua orang tuanya bekerja keras mengolah sawah demi memenuhi kebutuhan keluarga.
"Saya lahir sebagai anak petani dari desa terpencil di Kabupaten Bone. Saya bangga dengan latar belakang itu karena dari sanalah saya belajar tentang kejujuran, kerja keras, kesabaran, dan pentingnya tidak pernah menyerah. Mimpi setiap anak tidak ditentukan oleh tempat ia dilahirkan, tetapi oleh tekad dan usahanya untuk terus maju," ujar Muhamad Akbar Pamonroi.
Menurutnya, anak-anak petani harus percaya diri dan tidak merasa rendah diri. Justru pengalaman hidup di lingkungan pertanian membentuk karakter yang kuat untuk menghadapi berbagai tantangan.
Nilai kerja keras yang ditanamkan keluarga petani menjadi bekal penting dalam meraih pendidikan, karier, maupun pengabdian kepada masyarakat. Pandangan ini sejalan dengan berbagai kisah inspiratif yang menekankan bahwa menjadi anak petani adalah kebanggaan dan sumber motivasi untuk terus berkembang.
Melalui pesan tersebut, Akbar berharap generasi muda, khususnya yang berasal dari pedesaan, terus berani bermimpi besar tanpa melupakan akar kehidupan dan jasa para petani yang menjadi penopang ketahanan pangan bangsa.
Penulis*Akbar Burhanuddin*




