Kekeringan Melanda Wajo, BPBD Salurkan 119 Ribu Liter Air Bersih ke 11 Kecamatan

 


WAJO — Kekeringan masih melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Kondisi tersebut menyebabkan berkurangnya ketersediaan air bersih dan berdampak terhadap pemenuhan kebutuhan masyarakat.

Berdasarkan laporan harian Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Kabupaten Wajo, kondisi kekeringan telah berlangsung sejak Jumat (21/8/2026).

Koordinator Pusdalops PB BPBD Kabupaten Wajo, Rismawan, mengatakan kekeringan terjadi akibat berkurangnya ketersediaan air yang diperparah rendahnya curah hujan.

“Berkurangnya ketersediaan air menjadi salah satu penyebab terjadinya kekeringan. Kondisi ini juga dipengaruhi dampak El Nino yang mengakibatkan curah hujan rendah,” kata Rismawan.

Menurutnya, kondisi tersebut menyebabkan kekeringan dengan kategori menengah hingga panjang. Tinggi muka air di Sungai Walannae dan sejumlah sungai lainnya juga berada di bawah kondisi normal.

Kondisi itu tidak hanya berdampak pada kebutuhan air bersih masyarakat, tetapi juga berpotensi memengaruhi sektor pertanian, khususnya persawahan yang membutuhkan pasokan air.

Berdasarkan pendataan dan pemantauan Pusdalops PB BPBD Wajo, wilayah terdampak kekeringan saat ini tersebar di 11 kecamatan dengan 61 desa/kelurahan.

Pemerintah Kabupaten Wajo bersama tim terpadu terus melakukan pemantauan sekaligus menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah yang mengalami kekurangan air.

“Data wilayah terdampak terus kami lakukan pemutakhiran berdasarkan hasil pemantauan dan laporan dari lapangan,” ujar Rismawan.

BPBD Salurkan 84 Ribu Liter Air

Sebagai langkah penanganan, BPBD Wajo bersama tim terpadu telah melakukan pendataan, pelaporan, pengaktifan posko darurat bencana kekeringan, serta pendistribusian air bersih kepada masyarakat terdampak.

Hingga Kamis (10/9/2026), BPBD Wajo tercatat telah mendistribusikan 17 tangki air bersih sebanyak 81.000 liter dan dua tandon sebanyak 3.000 liter.

Dengan demikian, total air bersih yang telah disalurkan hingga 10 September 2026 mencapai 84.000 liter.

Rismawan menegaskan, bantuan air bersih tersebut diprioritaskan untuk kebutuhan konsumsi masyarakat, terutama untuk minum dan memasak.

“Air yang kami distribusikan diperuntukkan untuk konsumsi atau air minum. Jadi bukan untuk kebutuhan mandi dan mencuci,” tegasnya.

Hari Kedua, Tim Terpadu Salurkan 35 Ribu Liter

Penanganan kekeringan berlanjut pada Jumat (11/9/2026). Personel Batalyon C Pelopor bersama Tim Terpadu Tanggap Bencana Kabupaten Wajo kembali mendistribusikan air bersih kepada masyarakat terdampak musim kemarau.

Kegiatan tersebut melibatkan 6 personel Batalyon C Pelopor, 15 personel BPBD Wajo, 2 personel Kodim 1406/Wajo, personel PID dan Intelmob Batalyon C Pelopor, 2 personel PMI Wajo, 3 personel Damkar Wajo, 3 personel Satpol PP Wajo, serta 2 personel PDAM Wajo.

Tim menggunakan satu unit kendaraan Water Canon Batalyon C Pelopor dan dua unit mobil tangki PDAM Wajo.

Pendistribusian dilakukan di tujuh desa di Kecamatan Tanasitolo, yakni Desa Mario, Desa Waetou, Desa Nepo, Desa Pakkanna, Desa Assorajang, Desa Palippu dan Desa Pajalele.

Masing-masing titik mendapatkan pasokan sebanyak 5.000 liter, sehingga total distribusi pada kegiatan tersebut mencapai 35.000 liter air bersih.

Kegiatan diawali apel pengecekan personel sekitar pukul 08.14 Wita sebelum tim bergerak menuju lokasi sasaran. Distribusi pertama dilakukan di Desa Mario sekitar pukul 08.50 Wita dan dilanjutkan ke enam desa lainnya.

Dengan tambahan distribusi 35.000 liter pada Jumat (11/9/2026), total air bersih yang telah disalurkan berdasarkan laporan tersebut mencapai sedikitnya 119.000 liter.

Masyarakat di sejumlah titik pendistribusian tampak membawa berbagai wadah untuk menampung air yang disalurkan petugas. Bantuan tersebut disambut baik warga untuk memenuhi kebutuhan air bersih di tengah kondisi kekeringan.

Rismawan mengatakan kebutuhan masyarakat terdampak kekeringan masih cukup besar. Selain air bersih, masyarakat juga membutuhkan tempat penampungan serta sumber air.

Namun, proses distribusi masih menghadapi kendala, salah satunya keterbatasan armada untuk menjangkau seluruh wilayah terdampak.

“Kebutuhan mendesak saat ini adalah air bersih, tempat penampungan air bersih dan sumber air. Kendalanya salah satunya keterbatasan armada untuk distribusi,” katanya.

Selain pendistribusian air untuk kebutuhan konsumsi, BPBD Wajo juga terus memantau kondisi sumber air dan Bendung Gerak Tempe.

Berdasarkan laporan sebelumnya, tinggi muka air (TMA) hulu tercatat 4,1 meter, sedangkan TMA hilir 2,6 meter. Kondisi normal berada pada level 5,0 meter, dengan kondisi pintu bendung tertutup.

Rismawan mengatakan pemantauan serta pendistribusian bantuan air bersih akan terus dilakukan sesuai kondisi dan kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak.

“Penanganan terus kami lakukan melalui koordinasi dan pendistribusian air bersih kepada masyarakat yang terdampak,” pungkasnya.

Lebih baru Lebih lama

Iklan Utama


 

Iklan Premium