WAJO — Krisis air bersih akibat kekeringan di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, semakin meluas. Hingga pemutakhiran hari kedua, Jumat (11/9/2026), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wajo mencatat sedikitnya 61 desa dan kelurahan di 11 kecamatan terdampak kekeringan dan mengalami krisis air bersih.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan masyarakat terhadap pasokan air bersih semakin meningkat. Selain distribusi air, sejumlah wilayah juga membutuhkan dukungan pembangunan sumur bor sebagai solusi pemenuhan kebutuhan air dalam jangka lebih panjang.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Wajo, Andi Hasanuddin, S.IP, mengatakan pihaknya terus melakukan pemetaan dan pendataan di lapangan untuk memastikan penanganan dilakukan berdasarkan kondisi serta kebutuhan masing-masing wilayah.
“Kami telah memetakan titik-titik krusial yang mengalami krisis air terdampak kekeringan tahun 2026 ini. Data wilayah terdampak terus kami perbarui agar langkah intervensi, baik distribusi air bersih maupun pemenuhan kebutuhan sumur bor, bisa berjalan efektif dan menyentuh masyarakat yang paling membutuhkan,” ujar Andi Hasanuddin, Jumat (11/9/2026).
Lanjut Andi Hasanuddin mengatakan, penanganan krisis air bersih tersebut melibatkan personel lintas instansi untuk mempercepat proses distribusi dan pelayanan kepada masyarakat terdampak.
“Kegiatan tersebut melibatkan 6 personel Batalyon C Pelopor, 15 personel BPBD Wajo, 2 personel Kodim 1406/Wajo, personel PID dan Intelmob Batalyon C Pelopor, 2 personel PMI Wajo, 3 personel Damkar Wajo, 3 personel Satpol PP Wajo serta 2 personel PDAM Wajo,” ujar Andi Hasanuddin.
Menurutnya, sinergi lintas instansi tersebut menjadi bagian penting dalam menghadapi kondisi kekeringan yang terus meluas di sejumlah wilayah Kabupaten Wajo.
Berdasarkan pemutakhiran data kebutuhan air bersih dan sumur bor BPBD Kabupaten Wajo, wilayah terdampak tersebar di 11 kecamatan.
1. Kecamatan Tempe
Kelurahan Wiringpalannae
Kelurahan Atakkae
Kelurahan Mattirotappareng
Kelurahan Watanlipue
Kelurahan Salomenraleng
Kelurahan Laelo
Kelurahan Bulupabbulu
2. Kecamatan Tanasitolo
Desa Pakkanna
Desa Nepo
Desa Assorajang
Desa Mario
Desa Waetuo
Desa Pajalele
Desa Paippu
3. Kecamatan Majauleng
Kelurahan Raiyang
Kelurahan Paria
Desa Limpomajang
Desa Rumpia
Desa Bottopenno
Desa Bottotanre
4. Kecamatan Pammana
Desa Lapaukke
5. Kecamatan Sabbangparu
Desa Pasaka
Desa Wage
Kelurahan Sompe
Kelurahan Talotenreng
Desa Sumpursia
Desa Lagosi
Desa Lempa
6. Kecamatan Gilireng
Desa Polewali
Desa Poleondro
7. Kecamatan Sajoangin
Desa Barangmamase
Desa Sakkoli
Desa Salobulo
Desa Towalida
8. Kecamatan Pitumpanua
Kelurahan Benteng
Kelurahan Tobarakka
Desa Simpelly
Desa Lompobulo
Desa Elelebbae
Desa Buriko
Desa Tellesang
Desa Bau-Bau
Desa Jauh Pandang
Desa Marannu
Desa Abbanderangnge
Desa Maccolli Loloe
9. Kecamatan Maniangpajo
Wilayah Maniangpajo
Wilayah Mangkawani
10. Kecamatan Penrang
Kelurahan Doping
Desa Benteng
Desa Raddae
Desa Walanga
Desa Temmabarang
Desa Padaelo
11. Kecamatan Keera
Desa Partirodokka
Desa Lalliseng
Desa Inrello
Kelurahan Ballere
Desa Labawang
Desa Paojepe
Desa Ciromani
Desa Keera
Menutup keterangannya, Andi Hasanuddin menegaskan BPBD Wajo akan terus mengaktifkan posko darurat dan memperkuat koordinasi dengan tim terpadu maupun pemerintah provinsi.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi meluasnya dampak kekeringan sekaligus memastikan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya air bersih, tetap dapat terpenuhi.
“Penanganan akan terus kami lakukan sesuai perkembangan kondisi di lapangan. Kami juga meningkatkan koordinasi agar wilayah yang membutuhkan dapat segera mendapatkan intervensi,” tegasnya.




